Rabu, 20 Oktober 2021

Management Risiko





Pengertian Manajemen Risiko, Komponen, Jenis, Dan Tujuannya Dalam Bisnis


Manajemen risiko adalah satu teori yang harus diterapkan di dalam membangun bisnis atau usaha. Karena tanpa manajemen yang baik, pengusaha tidak bisa mendeteksi hal-hal buruk yang bisa menimpa perusahaan. Perusahaan bisa mengalami penurunan atau kolaps tanpa bisa diketahui apa penyebabnya.

Maka dari itu pengelolaan risiko adalah hal penting selain manajemen pemasaran dan manajemen bisnis selainnya. Sayangnya masih belum banyak yang mengetahui tentang teori manajemen ini. Termasuk pengetahuan terkait pengertian, komponen, jenis dan tujuan manajemen risiko dalam bisnis.
Pengertian Manajemen Risiko

Manajemen risiko adalah segala proses kegiatan yang dilakukan semata untuk meminimalkan bahkan mencegah terjadinya risiko perusahaan. Di dalamnya ada kegiatan identifikasi, perencanaan, strategi, tindakan, pengawasan dan evaluasi terhadap hal-hal negatif yang kemungkinan akan menimpa usaha.

Bisa dibilang juga jenis manajemen ini adalah satu metode untuk mencegah perusahaan mengalami masalah. Seperti kolaps, kerugian yang besar, gulung tikar, dijauhi klien dan semacamnya. Tentu strategi sistematis ini perlu dijalankan terutama untuk pebisnis pemula.

Pengertian Manajemen Risiko Menurut Ahli

Selain pengertian umum di atas, ternyata para ahli juga banyak yang mentafsirkan pengertian manajemen risiko secara redaksional. Ini dia beberapa di antaranya:
Fahmi (2010)

Menurut Fahmi manajemen risiko adalah satu disiplin ilmu yang mempelajari tentang tindakan-tindakan organisasi dalam mengatasi masalah berbasis manajemen yang sistematis dan menyeluruh.
Djojo Soedarso (2003)

Djojo Soedarso memiliki pandangan yang berbeda. Menurutnya manajemen risiko adalah penerapan fungsi manajemen secara umum untuk memetakan masalah dan solusinya yang terjadi di dalam sebuah organisasi perusahaan maupun keluarga dan masyarakat.
Tampubulon (2004)

Sedangkan menurut Tampubulon manajemen risiko adalah satu proses yang dilakukan untuk mengakomodasi segala kemungkinan buruk dari sebuah transaksi bisnis.
Darmawi (2014)

Menurut Darmawi, manajemen risiko adalah suatu usaha untuk mengetahui, menganalisis serta mengendalikan risiko dalam setiap kegiatan perusahaan dengan tujuan untuk memperoleh efektifitas dan efisiensi yang lebih tinggi.
Bramantyo (2008)

Bramantyo berpendapat bahwa manajemen risiko adalah proses terstruktur dan sistematis dalam mengidentifikasi, mengukur, memetakan, mengembangkan alternatif penanganan resiko.
Noshworthy (2000)

Manajemen risiko Menurut Noshworthy adalah Implementation of measures aimed at reducin the like lihood of those threats occuring and minimissing any damage if they do; Risk analysis and risk control form the basis of risk management where risk control is the application of suitable controls to gain a balance between security, usability and cost.

Djohanputro (2008)

Menurut Djohanputro Manajemen risiko adalah proses terstruktur dan sistematis dalam mengidentifikasi, mengukur, memetakan, mengembangkan alternatif penanganan risiko, dan memonitor dan mengendalikan penanganan risiko.
Siagian dan Sekarsari (2001)

Pengertian Manajemen risiko Menurut Siagian dan Sekarsari adalah pengelolaan risiko luas tidak hanya terfokus pada pembelian asuransi tapi juga harus mengelola keseluruhan risiko-risiko organisasi.
Siahaan (2007)

Pengertian Manajemen risiko Menurut Siahaan adalah perbuatan (praktik) dengan manajemen risiko, menggunakan metode dan peralatan untuk mengelola risiko sebuah proyek.
Smith (1990)

Menurut Smith Pengertian Manajemen Risiko adalah proses identifikasi, pengukuran, dan kontrol keuangan dari sebuah risiko yang mengancam aset dan penghasilan dari sebuah perusahaan atau proyek yang dapat menimbulkan kerusakan atau kerugian pada perusahaan tersebut.

Dari beberpa pengertian para ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa manajemen risiko adalah seuatu proses yang tersetruktur dan sistematis dalam mengindentifikasi, memahami dan mengembangkan alternatif penanganan segala risiko yang dilakukan oleh pelaku bisnis. Jenis manajemen ini adalah satu strategi bagus untuk membuat perusahaan tetap berkembang. Sekalipun berbagai macam risiko dan hal buruk siap menimpanya.





Komponen Manajemen Risiko

Manajemen risiko memiliki komponen-komponen tertentu yang membedakannya dengan manajemen bisnis lain. Instrumen inilah yang harus ada di dalam manajemen baru proses pelaksanaannya bisa dilakukan dengan maksimal. Ini dia komponen yang dimaksud:
Lingkungan Internal

Lingkungan internal maksudnya adalah segala risiko yang kemungkinan terjadi di dalam internal perusahaan. Di dalam komponen ini, tidak ada deteksi terhadap risiko yang terjadi antara perusahaan dengan faktor luar seperti pelanggan, klien dan semacamnya. Sekalipun kadang efek risiko internal ini juga berimbas pada hal tersebut.

Komponen lingkungan internal dalam manajemen risiko terkait dengan kedisiplinan karyawan, etika bekerja, Kompetensi pegawai, tingkat kesejahteraan bawahan dan selainnya. Ini perlu juga dilakukan deteksi manajemen untuk mencegah munculnya risiko dari kriteria tersebut.
Penentuan Sasaran

Penentuan sasaran maksudnya adalah pihak perusahaan harus memasukkan sasaran risiko yang jelas yang akan coba diselesaikan melalui sistem manajemen. Di dalamnya biasanya tercakup dua hal yaitu risiko yang muncul dari statemen visi dan misi usaha serta sasaran risiko yang datang dari kegiatan teknis atau operasional.

Tidak dimungkiri setiap perusahaan pasti memiliki visi dan misi usaha. Namun terkadang apa yang diidamkan tersebut tidak sesuai dengan harapan. Nah dengan adanya komponen ini, bisa dijelaskan apa penyebab masalah tersebut dan bagaimana cara menyelesaikannya.

Begitu juga yang terkait dengan kegiatan teknis atau operasional. Tidak bisa dibantah kalau visi dan misinya bagus, tetapi ketika sudah dilaksanakan malah menjadi buruk. Hal ini bisa terkait dengan kompetensi pekerja atau kepatuhan pada planning yang masih kurang.
Identifikasi Peristiwa

Komponen manajemen risiko yang ketiga adalah identifikasi peristiwa. Maksudnya adalah tidak disebutkan manajemen risiko jika pihak perusahaan tidak memiliki data detail hasil identifikasi peristiwa. Seharusnya ini memang sudah didapatkan sebelum usaha mulai dijalankan.

Untuk komponen ini boleh tidak meng-akomodir semua risiko. Tetapi minimal kegiatan yang potensial saja dengan berbagai pertimbangan masalah yang muncul jauh lebih besar. Sekalipun demikian, tidak semua peristiwa bisnis teridentifikasi merugikan. Oleh sebab itu, silakan dipilah mana peristiwa yang bernilai positif mana yang negatif.
Penilaian Risiko

Memungkinkan sebuah organisasi perusahaan ataupun bisnis untuk menilai sebuah kejadian atau keadaan dan kaitannya dengan pencapaian tujuan perusahaan atau bisnis tersebut.Manajemen perlu melakukan analisis mengenai dampak yang mungkin terjadi akibat resiko dengan 2 perspektif, yaitu : Likelihood (kecenderungan/ peluang) dan Impact/consequence (besaran dari realisasi risiko).
Tanggapan Risiko

Selain melakukan penilaian terhadap risiko, juga menentukan tanggapan atau respon terhadap risiko tersebut. Respon dari manajemen tergantung risiko apa yang dihadapi. Respon atau tanggapan tersebut bisa dalam bentuk :

Menghindari risiko (avoidance)

Mengurangi risiko (reduction)

Memindahkan risiko (sharing)

Menerima risiko (acceptance)
Aktivitas Pengendalian

Setelah diberikan tanggapan, selajutnya yaitu penyusunan prosedur dan kebijakan yang membantu memastikan bahwa respon terhadap risiko yang dipilih memadai dan terlaksana dengan baik. Aktivitas pengendalaian risiko ini antara lain :

Pembuatan kebijakan dan prosedur

Delegasi wewenang

Pengamanan kekayaan perusahaan

Pemisahan fungsi

Supervisi
Informasi dan komunikasi

Aktivitas ini berfous pada identifikasi informasi dan menyampaikannya kepada pihak terkait melalui media komunikasi. Informasi yang relevan diidentifikasi, diperoleh, dan dikomunikasikan dalam bentuk dan waktu yang tepat agar personil dapat melakukan tanggung jawabnya dengan baik.
Pemantauan (Monitoring)

Monitoring adalah komponen terakhir dalam manajemen risiko. Proses pemantauan dilakukan secara terus menerus untuk memastikan setiap komponen lainnya berfungsi sebagaimana mestinya. Hal penting yang perlu diperhatikan dalam proses monitoring adalah pelaporan yang tidak lengkap atau berlebihan.

Jenis-Jenis Manajemen Risiko

Selain memiliki komponen-komponen khusus,pengelolaan risiko juga dibedakan menjadi beberapa jenis. Di antaranya adalah:

1. Manajemen Risiko Operasional

Manajemen Risiko operasional adalah manajemen risiko yang disasarkan pada terjadinya permasalahan-permasalahan usaha yang muncul akibat faktor internal. Seperti kinerja pegawai yang rendah, sumber daya yang kurang berkualitas, terjadinya bencana, modal tidak sehat dan selainnya.

Pada umumnya cakupan sasaran untuk manajemen risiko jenis ini adalah faktor manusia, sistem, proses serta permasalahan eksternal tetapi yang tidak terkait dengan pelanggan melainkan muncul dengan sendirinya seperti musibah. Ini yang menjadi bidang penyelesaian untuk manajemen risiko operasional.

2. Manajemen Hazard

Manajemen Hazard adalah jenis manajemen risiko yang fokusnya pada masalah yang potensial membuat perusahaan gulung tikar. Biasanya problem usaha yang dideteksi adalah masalah-masalah yang besar dan berbahaya.

Ada tiga unsur yang diprioritaskan di dalam manajemen jenis ini. Yaitu masalah hukum, bahaya fisik serta penurunan moral. Ketiga hal inilah yang harus diantisipasi jika kemungkinan muncul bahaya potensial di sana.

3. Manajemen Resiko Strategis

Manajemen ini berkaitan dengan pengambilan keputusan. Resiko yang biasanya muncul adalah kondisi tak terduga yang mengurangi kemampuan pelaku bisnis untuk menjalankan strategi yang direncanakan. Dalam hal ini beberapa faktor seperti resiko operasi, resiko asset impairment, resiko kompetitif atau bahkan resiko frenchise (bila ada). Dalam majemen ini ada beberapa hal yang dapat anda lalukan di majaemen risiko strategis ini. Anda bisa membuat beberapa daftar berikut ini:
Daftar resiko
Penilaian resiko tersebut sesuai dengan kecenderungannya dan juga dampaknya
Penilaian pada kondisi saat ini yang sedang terjadi
Rencana tindakan bila resiko terburuk benar-benar muncul

4. Manajemen Risiko Finansial

Sesuai dengan namanya tentu sudah dipahami kalau manajemen risiko finansial adalah manajemen yang fokusnya pada keuangan perusahaan. Deteksinya diarahkan bagaimana sebisa mungkin agar perusahaan tidak kolaps hanya karena dana, modal, laba dan selainnya.

Dengan adanya manajemen ini, tentu pihak perusahaan akan memberikan perlindungan terhadap segala aset perusahaan. Tujuannya tidak lain supaya keuangan tetap sehat sehingga bisa dikontribusikan untuk perkembangan usaha ke depan.

Tujuan Manajemen Risiko Dalam Bisnis

Manajemen Risiko dijalankan semata untuk tujuan-tujuan tertentu. Luar biasanya tujuan-tujuan ini berpotensi merusak perusahaan jika tidak segera dicapai. Ini dia tujuan-tujuan yang dimaksud: Untuk Melindungi Perusahaan

Tujuan yang pertama adalah untuk melindungi perusahaan dari risiko bisnis yang berbahaya. Sehinga badan usaha tetap berdiri sekalipun diterpa berbagai macam masalah dan hal yang negatif. Melindungi perusahaan dengan manajemen risiko lebih berhasil dibandingkan yang tidak. Karena sebelum terjadi masalah, jenis problemnya sudah terdeteksi lebih dahulu.
Membantu Pembuatan Kerangka Kerja

Dengan adanya manajemen risiko tentu solusi atas masalah perusahaan bisa ditemukan. Nah, untuk aktualisasinya tinggal dibuat saja kerangka kerja yang sesuai dengan solusi tersebut. Ini alasan mengapa manajemen kerja bisa membantu pembuatan kerangka kerja. Dengan alasan ini pula kebijakan yang menyertainya juga bisa diputuskan dengan segera.
Sebagai Peringatan Kewaspadaan

Dengan dilakukannya manajemen risiko tentu segala hal buruk yang bakal muncul akan terdeteksi. Maka dari itu, ini bisa dijadikan bahan untuk tetap waspada dan hati-hati dalam mengelolanya. Bisa dibayangkan jika tidak ada manajemen risiko, tentu hal buruk akan terjadi begitu saja. Karena tidak ada kehati-hatian dalam bekerja dan semua karyawan bekerja tanpa memperhitungkan risiko yang ada di dalamnya.
Meningkatkan Kinerja Perusahaan

Membantu meningkatkan kinerja perusahaan dengan menyediakan informasi tingkat risiko yang disebutkan dalam peta risiko/ risk map. Hal ini juga berguna dalam pengembangan strategi dan perbaikan proses risk management secara berkesinambungan.
Sosialisasi Manajemen Risiko

Membangun kemampuan individu maupun manajemen untuk mensosialisasikan pemahaman tentang risiko dan pentingnya risk management.
Mendorong Manajemen Agar Proaktif

Mendorong manajemen agar bertindak proaktif dalam mengurangi potensi risiko, dan menjadikan manajemen risiko sebagai sumber keunggulan bersaing dan kinerja perusahaan.

Itulah penjelasan lengkap tentang manajemen risiko. Sekadar saran silakan pelajari bab ini jika Anda ingin membuka usaha dalam bentuk perusahaan. Dijamin Anda lebih siap tanding dibandingkan yang tidak menjalankannya.
Kesimpulan

Setelah Anda mengetahui pengertian manajemen risiko secara mendalam, sekarang waktunya Anda mengaplikasikannya. Pengelolaan risiko pada suatu usaha adalah suatu keharusan, terutama di zaman sekarang disaat semua berubah dengan cepat. Jika Anda tidak bisa mengelola risiko dengan benar, bisa dipastikan bahwa bisnis Anda dalam bahaya.

Menjadi adaptif terhadap perubahan juga merupakan salah satu solusi terhadap perubahan yang terjadi, dan ini yang akan membedakan Anda, apakah perubahan berdampak negatif atau postif pada bisnis Anda.

Pada pembukuan misalnya, saat dulu pembukuan dilakukan secara manual yang memakan waktu dan rentan terjadi kesalahan, pada saat ini sudah sangat banyak software akuntansi yang mudah digunakan dan praktis.
Semoga pembahasan singkat diatas bisa menambah wawasan teman-teman pembaca, dan jika ada yang berminat untuk lebih mendalami dalam menerapkan manajemen risiko. kami membuka konsultasi untuk wilayah Denpasar dan sekitarnya serta via online silahkan hubungi kontak dibawah ini :


Kantor Jasa Akuntan | Budi Wira Semadi, SE., Ak., CA.
Akuntan Berpraktir No. AB. 672
Izin Menteri Keuangan RI Nomor 263/KM.1 PPPK/2019


Mobile : +6289 702 90788
Email : budi.wira@akuntanindonesia.or.id

Jumat, 22 November 2019

Masalah PPh Persewaan Ruangan/Bangunan


Pertanyaan :



  1. Dasar pengenaan pajak (DPP) atas pembayaran uang jasa (fee) kepada perusahaan adjuster
  2. Perlakuan PPh atas persewaan tanah dan/atau bangunan.









Jawaban :


Mengenai PPh atas persewaan ruangan atau bangunan, peraturan yang dapat dijadikan acuan adalah Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 1996 tentang Pembayaran Pajak Penghasilan Atas Persewaan Tana dan/atau Bangunan dari Keputusan Menteri Keuangan Nomor 394/KMK. 04/1996 tentang Pelaksanaan Pembayaran dan Pemotongan PPh Atas penghasilan dari Persewaan Tanah dan/atau Bangunan.

Sesuai dengan ketentuan di atas, besarnya tarif atas PPh atas penghasilan dari persewaan tanah dan/atau bangunan, ditetapkan sebagai berikut:
  1. Sebesar 6% dari jumlah bruto nilai persewaan tanah dan/atau bangunan dan bersifat final dalam hal kepemilikan tanah dan / atau bangunan yang disewakan maupun yang menyewakannya adalah Wajib Pajak badan dalam negeri atau bentuk usaha tetap;
  2. Sebesar 10% dari jumlah bruto nilai persewaan tanah dan/atau bangunan dan bersifat final dalam hal yang menyewakan adalah Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri;
  3. Sebesar 10% dari jumlah bruto nilai persewaan tanah dan/atau bangunan dan bersifat final dalam hal kepemilikan tanah dan / atau bangunan yang disewakan adalah milik Wajib Pajak Orang Pribadi, tetapi yang menyewakannya adalah Wajib Pajak badan dalam negeri atau bentuk usaha tetap.

yang dimaksud dengan jumlah bruto nilai persewaan adalah semua jumlah yang dibayarkan atau terutang oleh penyewa dengan nama dan dalam bentuk apa pun juga yang berkaitan dengan tanah dan / atau bangunan yang disewa termasuk biaya perawatan, biaya pemeliharaan, biaya keamanan, biaya fasilitas lainnya, dan "service charge" baik yang perjanjiannya dibuat secara terpisah maupun yang disatukan.

Wajib Pajak yang bergerak di bidang usaha persewaan tanah dan / atau bangunan yang menerima atau memperoleh penghasilan dari luar usaha persewaan tanah dan atau bangunan, atas penghasilan tersebut dikenakan PPh sesuai dengan ketentuan yang berlaku. WP tersebut tetap wajib menyampaikan SPT Tahunan PPh, dengan melampirkan Laporan keuangan yang meliputi seluruh kegiatan usahanya.

Jawaban untuk pertanyaan kedua tersebut di atas adalah

Orang pribadi                                      10%  Final
Badan bukan usaha sewa menyewa      6%  Final
Badan usaha pokok sewa menyewa      6%  Final

Jadi, jika pemiliknya orang pribadi tarifnya 10% final, sedangkan jika pemiliknya badan maka dikenakan PPh sebesar 6% final tanpa membedakan apakah usaha pokoknya melakukan sewa menyewa atau bukan. Jika wajib pajak yang usaha pokoknya sewa-menyewa, namun masih memperoleh penghasilan di luar usaha sewa - menyewa tetap harus menyampaikan SPT Tahunan karena yang final hanyalah dikenakan terhadap PPh persewaan sedangkan yang lain mungkin saja tidak final.

Demikian yang dapat kami sampaikan secara singkat atas pertanyaan tersebut, semoga bermanfaat

Sumber : Bulletin Business News

Rabu, 20 November 2019

Masalah Pajak Penghasilan Atas Jasa Pelatihan dan Software Komputer


Pertanyaan :


Bagaimana perlakuan Perpajakan mengenai PPh Perusahaan yang kegiatan pokoknya memberikan jasa training penggunaan Software dan pembuatan program atau software, kewajiban perpajakan apa saja yang berkaitan dengan PPh, apabila :

  1. Memberikan Jasa Training kepada atas nama perorangan, PT dan Lembaga pendidikan (Perguruan Tinggi) serta BUMN
  2. Membuat program software kepada PT dan Lembaga pendidikan serta BUMN.


Jawaban :


Atas jasa pelatihan penggunaan software ini dikenakan pemotongan PPh Pasal 23 sebesar 6% oleh pelanggan. Pelanggan disini dapat berupa Perseroan Terbatas (PT), BUMN, atau Perguruan Tinggi. Dasar hukumnya adalah Keputusan Direktur Jenderal PAjak No. KEP-176./2000 tanggal 26 Juni 2000 tentang Jenis Jasa Lain dan Perkiraan Penghasilan Neto Sebagaimana Dimaksud Dalam PAsal 23 Ayat (1) huruf c Undang-undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan Sebagaimana Telah Diubah Terakhir dengan Undang-undang Nomor 10 Tahun 1994.

Dalam Keputusan Direktur Jenderal Pajak tersebut secara explisit disebutkan bahwa jasa sehubungan dengan software komputer, termasuk perawatan /pemeliharaan dan perbaikan termasuk jasa yang dikenakan PPh Pasal 23.

Jika pelanggan tidak ditunjuk sebagai pemotong misalnya perorangan yang tidak memiliki NPWP, penghasilan tersebut dimasukkan dalam SPT dan dikenakan pajak progresif.

Selanjutnya menjawab pertanyaan kedua mengenai pembuatan program software, maka atas penghasilan dari jasa sehubungan dengan software komputer ini juga dipotong PPh Pasal 23 oleh pelanggan sebesar 15% dari perkiraan penghasilan neto atau sebesar 6% dari jumlah bruto tidak termasuk PPN.

Selain dipotong PPh Pasal 23, atas penyerahan dan jasa kepada bendaharawan pemerintah yang sumber dananya dari APBN/APBD atau penyerahaan tersebut kepada BUMN / BUMD, maka atas penghasilan yang diterima dipotong PPh Pasal 22 sebesar 1,5% dari jumlah bruto.

Jenis pajak lain yang dapat dikenakan terhadap perusahaan selain yang telah kami ulas di atas adalah :
  1. Perusahaan sebagai pemberi kerja wajib memotong PPh Pasal 21, menyetorkannya, serta melaporkannya kepada KPP setempat. Kewajiban ini ada jika perusahaan membayar gaji atau imbalan lain kepada karyawan baik yang tetap maupun tidak tetap.
  2. Jika perusahaan mengimpor barang, maka wajib melunasi PPh Pasal 22 impor yang besarnya 2,5% kalau memiliki API (Angka Pengenal Impor) dan 7,55% jika tidak memiliki API.
  3. Perusahaan juga wajib melakukan pemotongan PPh Pasal 23 atas pembayaran biaya-biaya tertentu, misalnya bunga (kecuali dibayarkan kepada bank didalam negeri), royalti, dividen (kecuali dibayarkan kepada pemegang saham yang berbentuk PT, BUMN, Koperasi, Yayasan), sewa, dan penghasilan lainnya.
  4. Perusahaan juga harus melaksanakan kewajiban bulanan PPh Pasal 25 setiap bulannya yang harus dibayarkan selambat-lambatnya tanggal 15 bulan berikutnya dan melaporkannya selambat-lambatnya tanggal 20 bulan berikutnya.
  5. Jika perusahaan melakukan pembayaran ke luar negeri seperti bunga, dividen, loyalti, imbalan jasa, hadiah, penghargaan dan sebagainya, maka dikenakan PPh Pasal 26 sebesar 20% atau sebesar tax treaty antara negara Indonesia dengan negara lain di luar negeri tersebut.
  6. Perusahaan juga wajib membayar pajak-pajak lainnya seperti pajak daerah (misalnya, pajak reklame), Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), bea masuk, bea materai, dan sebagainya tergantung pada transaksi yang terjadi


Demikian yang dapat kami sampaikan secara singkat atas pertanyaan tersebut, semoga bermanfaat

Sumber : Bulletin Business News

Rabu, 13 November 2019

Masalah Perlakuan Pajak untuk Rumah Kos


Pertanyaan : 




Permasalahan perpajakan untuk rumah kos, apakah ada peraturan mengatur usaha tersebut ?


Jawaban : 


Untuk pertanyaan Perpajakan untuk Rumah Kos, sepanjang pengetahuan kami, belum ada peraturan yang secara khusus mengatur perlakuan perpajakan mengenai rumah kos. Dari data base peraturan perpajakan yang kami miliki, ada peraturan yang mengatur sekilas mengenai rumah kos yaitu dimasukkan sebagai kategori pajak Daerah yaitu Pajak Hotel sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2001. Dalam Pasal 38 huruf a Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2001disebutkan bahwa objek pajak hotel adalah pelayanan yang disediakan hotel dengan pembayaran termasuk fasilitas penginapan atau fasilitas tinggal jangka pendek. Dalam penjelasan pasal 38 huruf a ini disebutkan bahwa dalam pengertian rumah penginapan termasuk rumah kos dengan jumlah kamar 10 (sepuluh) atau lebih yang menyediakan fasilitas seperti rumah penginapan. Fasilitas penginapan / fasilitas tinggal jangka pendek, antara lain, gubuk wisata (cottage), motel, wisma pariwisata, pesanggrahan (hostel) losemen, dan rumah penginapan.

Dari ketentuan di atas jadi jelas bahwa atas pelayanan yang disediakan rumah kos yang jumlah kamarnya minimal 10 kamar dikenakan pajak hotel yang besarnya paling tinggi 10% jadi, pengusaha rumah kos tersebut adalah wajib pajak hotel dan mereka yang membayar kepada pengusaha rumah kos menjadi subjek pajak hotel.

Sudah tentu bagi pengusaha rumah kos tersebut akan dikenakan pajak-pajak lain sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Yang jelas atas penghasilan yang diterima pengusaha rumah kos harus dimasukkan dalam Surat Pemberitahuan Tahunan yang dilaporkan bersama-sama dengan penghasilan lain yang diperoleh pengusaha tersebut. Penghasilan yang dapat digunakan untuk konsumsi atau menambah kekayaan Wajib Pajak dalam dama dan bentuk apa pun merupakan objek pajak, termasuk penghasilan dari rumah kos.

Mungkin karena pengusaha rumah kos masih saat ini masih dalam skala kecil, maka pengaturan pajaknya juga belum begitu diperhatikan. Pengusaha rumah kos ini biasanya adalah mereka yang memiliki kelebihan kamar di rumah pribadinya terutama yang dekat dengan lokasi sekolah atau perusahaan tempat bekerja. Di kota-kota besar, potensi pajak dari rumah kos ini cukup besar, sehingga perlu ada intensifikasi perpajakan, terutama bagi pengusaha rumah kos yang besar-besaran. Bagi penyedia rumah kos yang sedikit, kami kira belum layak untuk dikategorikan sebagai pengusaha rumah kos.


Sumber : Bulletin Business News

Jumat, 08 November 2019

Strategy Business in Hospitality Industry (Hotel & Resort)



Agenda

1.  Bali Tourism History
2.  Tourism by Numbers
3.  Hotel Business
4.  Hospitality Finance
5.  Q&A

Bali Tourism History

Sejara perjalanan pariwisata di Bali pertama dilakukan oleh Maha Rsi Markandeya dari tanah Jawa untuk tujuan penyebaran Agama Hindu di Pulau Bali pada abad ke 8 Masehi. Lalu terdapat juga beberapa Tokoh Spiritual lainnya datang ke Pulau Bali untuk tujuan yang sama setelahnya. Lebih lengkapnya bisa dibaca di link dibawah :

Sejarah Pariwisata di Bali

Bali Hotel merupakan hotel paling mewah di tahun 1930an. Hotel ini terletak di Jalan Veteran, Denpasar City yang dibangun pada masa kolonial Belanda pada tanggal 22 Agustus 1927 . Ini adalah hotel pertama di pulau Bali yang melayani para tourist yang berlibur ke Bali pada waktu itu. Pada dekade tersebut, lebih dari seratus wisatawan asing datang ke Bali dengan menggunakan kapal uap Koninklijke Paketvaart Maatschappij yang berlabuh di Buleleng.

Hotel Inna Grand Bali Beach hotel mewah yang terletak di pantai sanur. Diresmikan tahun 1966 dengan fitur-fitur seni dan kebudayaan Bali. Hotel ini memiliki 10 lantai dan jumlah kamarnya 574 kamar.

BTDC Tahun 1973, dan Hotel Bali Hayyat Sanur berdiri tahun 1973

Tahun 2002 Bom Bali 1 dan 2005 Bom ali 2 sempat membuat ambruk pariwisata Bali.

Tourism Facility
1.  Acomodation 5.924 unit
2.  Resto & Bar 2.989 unit
3.  Travel Agency 439 unit
4.  Water Sport 258 unit

Pertumbuhan pariwisata di Bali dari tahun ke tahun semakin meningkat dari data yang bisa dilihat di link dibawah ini :


Business Overview

Location/Type
1.  Commercial Building
2.  Luxury Villa

Target Market
1.  Single Traveler
2.  MICE Group
3.  Executive

Branding
1.  Local
2.  International Managed

Target Market

Anyone looking for a Room
1.  Specific type of people
2.  Easier : Find more high paying guest
3.  Age : Gen x, Gen y, Baby Boomer, Millennial
4.  Demographic : Asian, American, Europe, Middle East.

Selecting Hotel Operator
1.  Righ Brand
2.  Market Knowledge
3.  Distribution Channel
4.  Corporate Support
5.  Drive Profitability

Management Agreement
1.  Management Fee
-          Base Fee
-          Marketing Fee
-          Incentive Fee

2.  Employee
-          By Owner or Operator

3.  Duration & Renewal
-          Shoorter without Renewal Right

4.  Financial Reporting
-          Owner Audit

Revenue Management


1.  Segmentation
-          Devide Custommer
-          Purchase Behaviour
-          Booking Trend

2.  Pricing
-          Getting the Price Right
-          Competitor Analisys
-          Market Share

3.  Forecasting
-          Trand
-          Booking Place

4.  Distribution.
-          Cost Effective
-          OTA
-          Hotel Website

Senin, 07 Oktober 2019

Menentukan Target Penjualan


Dalam menentukan suatu target penjualan haruslah cermat dan berhati-hati, target yang tidak realistis akan dapat membuat stress pelaksananya. Untuk itu dalam menentukan target penjualan bisa dimulai dari penentuan laba yang diinginkan kemudian dihitung jumlah penjualan yang harus dicapai untuk mendapat laba yang ditargetkan. Atau dengan menambahkan prosentase tertentu dari pencapaian terakhir, atau dengan mengumpulkan data dari team sales, atau dengan analisa data time series dengan penghitungan statistik dengan menggunakan data penjualan yang lalu, dan masih ada cara lain lagi yang digunakan untuk menentukan target penjualan.
Masing-masing cara atau pendekatan yang digunakan untuk menentukan target penjualan memiliki kelebihan dan kekurangannya. Pendekatan yang digunakan dalam menentukan target penjualan, pendekatan ini mungkin berguna untuk para pemula yang sedang mencari formula dalam menentukan target penjualan, namun belum tentu cocok untuk semua jenis usaha. Pendekatan ini  untuk perusahaan yang sudah berjalan sedikitnya 3 tahun.
FORMULASI MENENTUKAN TARGET PENJUALAN
Saya menyederhanakan dengan formulasi sbb:
Target Penjualan =  ( F + C +I+ O ) CL
F = Forecasting
C = Correction
I = Improvement
O = Opportunity
CL = Confidence level

FORECASTING ( Peramalan )
Dalam membuat Forecast penjualan bisa menggunakan angka volume atau dalam rupiah, perbedaan pokok terletak pada ada tidaknya perubahan harga jual, karena bisa terjadi secara rupiah penjualan menunjukkan kenaikan, namun secara volume sebenarnya terjadi penurunan.
Untuk menghindari subyektifitas, menghitung forecast penjualan dapat dilakukan penghitungan secara statistika berdasarkan data penjualan tahun sebelumnya. Ada beberapa metode yang dapat digunakan, antara lain metode trend setengah rata rata, metode moment, least square, regresi, dan lainnya. Pada kesempatan ini saya tidak menjelaskan berbagai macam metode tersebut.
Menghitung Forecast Penjualan dengan metode moment:
Y  =   a + bx      untuk trend garis lurus

Dimana :
Y =   variabel yang akan diramalkan, dalam hal ini adalah peramalan penjualan produk perusahaan.
a =   konstanta yang akan menunjukan besarnya harga Y apabila X sama dengan 0  (nol)
b =   variabel per x” yaitu menunjukkan besamya perubahan nilai Y dan setiap perubahan satu unit x.
x =   unit waktu, yang dapat dinyatakan dengan minggu, bulan, semester, tahun dan lainnya tergantung kepada kesesuaian dari perusahaan itu sendiri.

Contoh:













Persamaan linernya adalah :
Y = a + bx
à ∑X.Y = ∑X.a + ∑X².b
∑Y = n.a + ∑X.b

Menghitung b
22,693  =  3a + 5b
23,692  =  3a + 3b
————————-
-999      =   0  + 2b
b    =  -999/2
b    =  – 499.5

Menghitung  a
22,693  = 3a +( -499.5*5)
3a   = 22,693 +2,497.5
a   = 8,396.83

Diperoleh persamaan sbb:
Y = 8,396.83-499.5x

Untuk tahun 2017 nilai x = 2
Y = 8,396.83-499.5*2
Y = 7,397.83

Untuk tahun 2018 nilai x = 3
Y = 8,396.83-499.5*3
Y = 6,898.33
Dari perhitungan di atas diperoleh angka forecast penjualan tahun 2018 sebesar 6,898 jika dibuat grafiknya nampak seperti berikut:
















CORRECTION (Koreksi)

Forecast 2018 sebesar 6898 dari perhitungan di atas bukan berarti dijadikan angka final, masih diperlukan serangkaian analisa terhadap kinerja tahun 2017 untuk mengetahui lebih baik apa penyebabnya terjadinya penurunan penjualan di tahun 2017.  Bila dilihat tahun 2016 masih menunjukkan growth positif (1,8%),  namun pada tahun 2017 growth menjadi negative (-13,8%). Terlihat bahwa pencapaian tahun 2017 diluar dugaan dan sepertinya perusahaan tidak mampu keluar dari situasi yang buruk, sehingga penjualan pada tahun 2017 turun sangat signifikan.

Apa yang menyebabkan turunnya penjualan sebesar 13,8%, perusahaan wajib melakukan analisa yang kritis dan cermat untuk menemukannya. Jika perusahaan tidak mampu mengindikasikan penyebab penurunan penjualan, perusahaan akan mengalami kesulitan dalam mengendalikan penjualan pada tahun berikutnya, sehingga trend penurunan penjualan kemungkinan sangat besar akan terjadi lagi di tahun 2018, dan forecast penjualan tahun 2018 sebesar 6898 cukup realistis.

Memang tidak mudah untuk mengetahui secara pasti faktor apa saja yang menyebabkan terjadi penurunan penjualan yang terjadi dalam beberapa tahun ini, karena dalam beberapa tahun ini menunjukkan banyak perubahan perilaku masyarakat baik dari sisi gaya hidup, nilai, atau cara berkomunikasi akan berdampak pada perubahan kebutuhan pasar.

Perkembangan teknologi yang cepat, merubah banyak perlaku masyarakat. Teknologi membuat proses menjadi serba cepat dan lintas geografi. Perubahan ini dirasakan hampir semua sendi-sendi kehidupan. Perubahan cara berkomunikasi, perubahan dalam mendapatkan informasi, perubahan dalam memenuhi kehidupan yang serba cepat, dan perubahan lain sebagai counter dari kecepatan tersebut.

Bisa saja terjadi bahwa produk dan harga yang ditawarkan, tingkat pelayanan, saluran distribusi, cara berpromosi, dan lainnya yang dilakukan perusahaan kurang mendapat respon dari pasar yang ditarget, atau perusahaan mengalami tekanan persaingan produk sejenis dan pengganti. Perubahan tingkat daya beli masyarakat dan proses disrupsi yang sedang berjalan bisa juga sebagai salah satu penyebab turunnya penjualan.

Untuk menginventarisasi faktor apa saja yang mempengaruhi turunya penjualan, diperlukan suatu analisa secara kritis dan cermat tentang kondisi pasar dari segmen pasar yang ditarget serta faktor yang mempengaruhi segmen pasar tersebut. Hasil analisa kondisi pasar tersebut dapat dituangkan dalam sebuah daftar kemudian dibandingkan dengan apa yang telah dilakukan perusahaan dalam upaya meraih penjualan. Ketidaksesuaian akan terlihat dan ketidaksesuaian tersebut hanya butuh suatu keyakinan bahwa hal tersebut merupakan fakta yang telah terjadi.

Masalah kualitas, harga, lokasi, kemasan sebagai penentu dan apakah produk dan harga ditawarkan inline dengan kebutuhan pasar. Kemudian hal yang penting berikutnya, apa yang menggerakan produk tersebut dapat terjual, disini strategi marketing dan penjualan sangat penting, dan kesiapan sumber daya dimiliki.

Apa yang terjadi bila perusahaan tidak melakukan perbaikan dan atau perubahan terhadap hal hal yang menyebabkan turunnyan penjualan. Trend prosentase penurunan dapat dijadikan acuan, tinggal menilai seberapa besar penjualan akan menurun bila tidak dilakukan perbaikan. Apakah angka proyeksi 6898 di atas masih perlu dikoreksi positif atau negative.
Analisa di atas tidak hanya berlaku pada saat penjualan mengalami penurunan, tetapi pada saat penjualan mengalami kenaikan, perlu diketahui faktor apa saja yang menentukan kenaikan penjualan. Pemahaman ini akan membantu anda dalam mengendalikan penjualan.

IMPROVEMENT (Perbaikan)

Kesalahan-kesalahan yang terjadi di tahun sebelumnya jangan dilanjutkan, perbaiki atau ubah menjadi lebih efektif. Misalnya dipastikan bahwa telah terjadi salah strategi dalam marketing, perbaikannya adalah dengan merubah strategi marketing yang lebih efektif.

Setelah memiliki daftar faktor yang diindikasikan secara kuat sebagai penyebab turunnya penjualan, berikutnya mengukur seberapa jauh perusahaan mampu melakukan perbaikan dan seberapa besar perbaikan tersebut dapat menahan turunnya penjualan atau menambah peroleh penjualan. Perbaikan juga harus dikaji dari aspek keuangan, apakah dari kajian keuangan perbaikan tersebut dapat memperbaiki perolehan laba perusahaan.

Improvement harus dilakukan bila perusahaan ingin memperbaiki perolehan penjualan. Namun perlu hati hati karena masing masing faktor dapat berkaitan satu sama lain, jika strategi marketing telah direspon positif oleh pasar, namun strategi penjualan direspon negative oleh pelanggan, maka hasilnya tidak optimal.

OPPORTUNITY (Kesempatan)

Perubahan pasar bisa mendatangkan peluang baru, dengan pemahaman kondisi pasar dan bisnis anda, serta terbuka dalam menerima masukan dan informasi niscaya akan menemukan peluang peluang yang dapat meningkatkan perolehan penjualan. Contoh peluang misalnya produk yang telah dibuat X, kemudian ada kebutuhan pasar untuk produk X1, peluang ini bisa dianalisasi untuk diambil atau tidak. Jika mampu mengidentifikasi kebutuhan pasar dengan jeli, akan dapat ditemukan peluang-peluang yang mungkin saja dapat mendongkrak penjualan.

Dalam bisnis tidak kata terhenti, menunggu, tapi lebih kepada mencari,  menemukan, dan meraih. Semangat meraih peluang akan mendorong seluruh komponen yang terlibat dalam perusahaan untuk memunculkan strategi dan program yang efektif dan efisien.
Buatlah daftar tentang peluang untuk meningkatkan penjualan kemudian lakukan analisa cost and benefit dengan bagian terkait, kemudian pilih peluang satu atau lebih yang memiliki tingkat keberhasilan paling tinggi.

CHALLENGE (Tantangan)

Dalam menentukan target sebaiknya mengandung tantangan, tantangan sebaiknya dibarengi dengan apresiasi. Dalam kasus di atas sebenarnya sudah memiliki tantangan, baik di tahap perbaikan maupun mengambil kesempatan.

CONFIDENCE LEVEL (Tingkat Keyakinan)

Tingkat kepercayaan akan akurasi data dan kecermatan analisa, serta kemampuan sumber daya menjadi pertimbangan dalam menilai seberapa jauh rencana atau program dapat dijalankan dengan sukses. Banyak orang memiliki rencana besar namun ragu dalam menjalankannnya, jika timbul keraguan mestinya dapat dijawab apa yang membuat ragu. Bagian ini bisa menjadi suatu proses untuk memverifikasi kembali seluruh yang direncanakan.

TARGET PENJUALAN

Formulasi untuk menentukan target penjualan di atas, untuk menyederhanakan tahap tahap untuk menentukan target penjualan agar runtut dan diharapkan dapat menghasilkan angka target yang lebih realisitis. Sebagai ilustrasi hasil dari penghitungan target penjualan, dapat digambarkan sebagai berikut:




































Dalam ilustrasi ini diperoleh target penjualan tahun 2018 sebesar 7,864 atau naik 9,5% dari tahun 2017. Namun Target penjualan tahun 2018 masih lebih rendah dari pencapaian tahun 2016, jika perusahaan menginginkan kembali ke angka tahun 2016, tentunya tidak bisa mengganti angka begitu saja, melainkan harus memiliki strategi dan program kerja tambahan yang realistis dan dapat diraih. Memperbaiki penjualan dalam kondisi trend penjualan menurun bukanlah hal yang mudah dilakukan dan sering terjadi strategi dan program marketing maupun penjualan akan berdampak pada penjualan setelah beberapa bulan kemudian bahkan bisa ditahun berikutnya.

Final target yang didapat dari penghitungan target penjualan di atas akan dimasukan dalam perencanaan laba perusahaan, sehingga dari aspek keuangan akan tergambar apa dampak dari target penjualan tersebut terhadap perencanaan laba perusahaan.

Semoga bermanfaat