Kali ini kita akan membahas “Cara Membaca
Laporan Keuangan Neraca”, tapi sebelum membahasnya, saya akan flash back lagi
training sebelumnya “Cara Membaca Laporan Keuangan Rugi Laba”.
Point
pentingnya adalah :
1.
Bandingkan
pendapatan dengan HPP.
2.
Amati beban dan
pendapatan, bandingkan dengan periode sebelumnya.
3.
Cermati tiap2
akun yang terdapat pada pendapatan dan beban.
Tantangan
seorang finance dan ancaman di Era Industrial 4.0
Industri
4.0 adalah Bagaimana teknologi seperti kecerdasan buatan (AI/Robot), Kendaraan
otomasi, dan Internet saling mempengaruhi kehidupan manusia Istilah ini
pertama kali diungkapkan pertama kali oleh Profesor Klaus
Schwab. Beliau merupakan ekonom terkenal asal Jerman sekaligus penggagas World Economic Forum (WEF)
Era
sebelumnya :
1.
Industrial 1.0
atau dahulu disebut revolusi industri adalah : dimulai pada abad ke 18 yang
ditandai dengan ditemukannya Mesin uap, dan mesin-mesin manufaktur.
2.
Industrial 2.0
adalah : dimulai pada abad ke 19 ditandai dengan dimulainya produksi masa
(pabrik kendaraan bermotor), Mesin listrik, dan standarisasi industri.
3.
Industrial 3.0
adalah : dimulai pada abad ke 20 yang ditandai dengan perkembangan
komputerisasi dan teknologi informasi.
Beberapa
pekerjaan manusia akan mulai digantikan terutama di finance salah satunya
adalah:
a.
Kasir
b.
Account
Receivable
c.
Collector
Sementara
diluar itu pekerjaan yang terancam adalah : Teller bank, Supir, Guide,
Translater, Dll. Sementara pada saat ini Indonesia tercatat dengan jumlah
penduduk usia produktif sangan tinggi. Disini tantangan seorang CFO/Leader
Finance harus terus meningkatkan kompetensi untuk mampu bersaing dengan Negara
Lain yang masuk dalam Masyarakat Ekonomi Asean.
Masuk
ke pembahasan “Cara Membaca Laporan Keuangan Neraca”
|
Aktiva Lancar
Aktiva Tetap
Aktiva Lain
|
87%
11%
2%
100%
|
Liabilities
Kewajiban Lancar
Hutang Jangka Panjang
Equity/Modal Pemegang Saham
|
18%
20%
62%
100%
|
Apakah perusahaan dalam kondisi baik?
Suatu perusahaan yang dikatakan aman harus
memiliki tingkat pengembalian yang rendah, dan modal yang besar, dan
pertumbuhan yang lambat, dengan hutang dan aktiva jangka pendek yang sedikit.
|
Aktiva Lancar
Aktiva Tetap
Aktiva Lain
|
70%
28%
2%
100%
|
Liabilities
Kewajiban Lancar
Hutang Jangka Panjang
Equity/Modal Pemegang Saham
|
25%
15%
60%
100%
|
Contoh Perusahaan Aman
Suatu perusahaan dikatakan berisiko jika
memiliki tingkat pencairan aktiva yang tinggi (aktiva sulit dicairkan
nilainya), aktiva jangka panjang yang tinggi, dana pendukung dari luar yang
nilainya lebih dari separuh bisnis, dasar modal yang kecil, tingkat pertumbuhan
yang tinggi, dan pendapatannya sangat fluktuatif.
|
Aktiva Lancar
Aktiva Tetap
Aktiva Lain
|
30%
68%
2%
100%
|
Liabilities
Kewajiban Lancar
Hutang Jangka Panjang
Equity/Modal Pemegang Saham
|
20%
45%
35%
100%
|
Contoh Perusahaan Berisiko
Analisis
Rasio Laporan Keuangan Perusahaan
Analisa
rasio keuangan yang biasa digunakan adalah:
1.
Rasio Likuiditas
Rasio
untuk mengukur kemampuan perusahaan untuk memenuhi kemampuan finansialnya dalam
jangka pendek.
Ada
beberapa jenis rasio likuiditas antara lain :
a.
Current Ratio, rasio untuk mengukur kemampuan
perusahaan dalam membayar kewajiban finansial jangka pendek dengan mengunakan
aktiva lancar.
Rumus
menghitung Current Ratio:
Current
Ratio = Aktiva Lancar / Hutang Lancar X 100%
Rasio Lancar (Current Ratio) = AL : KL
Rasio Lancar 2015 = 90,120,847 : 61,734,197 = 1,45
Rasio Lancar 2016 = 93,088,530 : 56,604,822 = 1,64
Rasio Lancar 2015 = 90,120,847 : 61,734,197 = 1,45
Rasio Lancar 2016 = 93,088,530 : 56,604,822 = 1,64
b. Cash
Ratio, rasio untuk mengukur kemampuan
perusahaan dalam membayar kewajiban finansial jangka pendek dengan mengunakan
kas yang tersedia dan berikut surat berharga atau efek jangka
pendek.
Rumus
menghitung Cash Ratio:
Cash
Ratio = Kas + Efek / Hutang Lancar X 100%
c.
Quick Ratio atau Acid Test Ratio, rasio
untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban finansial jangka
pendek dengan mengunakan aktiva lancar yang lebih likuid (Liquid Assets).
Rumus
menghitung Quick Ratio:
Quick Ratio
= Kas + Efek + Piutang / Hutang Lancar X 100%
Rasio Cepat (Quick
Ratio) = (AL-Persediaan) : KL
Rasio Cepat 2015 = (90,120,847 – 26,627,729) : 61,734,197 = 1,03
Rasio Cepat 2016 = (93,088,530 – 30,672,422) : 56,604,822 = 1,10
Rasio Cepat 2015 = (90,120,847 – 26,627,729) : 61,734,197 = 1,03
Rasio Cepat 2016 = (93,088,530 – 30,672,422) : 56,604,822 = 1,10
Catatan : Nilai ideal dari ketiga analisa rasio likuiditas
ini ini adalah minimum sebesar 150%, semakin besar adalah semakin baik dan
perusahaan dalam kondisi sehat.
2.
Rasio Profitabilitas atau Rentabilitas
Rasio
untuk mengukur seberapa besar kemampuan perusahaan memperoleh laba dalam
hubungannya dengan nilai penjualan, aktiva, dan modal sendiri.
Ada
beberapa jenis rasio profitabilitas antara lain :
a.
Gross Profit Margin, rasio untuk mengukur kemampuan
perusahaan dalam mendapatkan laba kotor dari penjualan.
Rumus
menghitung Gross Profit Margin:
Gross
Profit Margin = Penjualan Netto - HPP / Penjualan Netto X 100%
b.
Operating Income Ratio, rasio untuk mengukur kemampuan
perusahaan dalam mendapatkan laba operasi sebelum bunga dan pajak dari
penjualan.
Rumus
menghitung Operating Income Ratio:
Operating
Income Ratio = Penjualan Netto - HPP – Biaya Administrasi & Umum
(EBIT) / Penjualan Netto X 100%
c. Net
Profit Margin, rasio untuk mengukur kemampuan
perusahaan dalam mendapatkan laba bersih dari penjualan.
Rumus
menghitung Net Profit Margin:
Net
Profit Margin = Laba Bersih Setelah Pajak (EAT) / Penjualan Netto X 100%
Margin Keuntungan = Laba Bersih : Penjualan
Margin keuntungan 2015 = 94,941,536 : 833,065,620 * 100% = 11,4%
Margin keuntungan 2016 = 69,973,064 : 798,060,616 * 100% = 8,8%
Margin keuntungan 2015 = 94,941,536 : 833,065,620 * 100% = 11,4%
Margin keuntungan 2016 = 69,973,064 : 798,060,616 * 100% = 8,8%
d.
Earning Power of Total Investment, rasio
untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam mengelola modal yang dimiliki yang
diinvestasikan dalam keseluruhan aktiva untuk menghasilkan keuntungan bagi
investor dan pemegang saham.
Rumus
menghitung Earning Power of Total Investment:
Earning
Power of Total Investment = EBIT / Jumlah Aktiva X 100%
e. Rate
of Return Investment (ROI) atau Net Earning Power Ratio, rasio
untuk mengukur kemampuan modal yang diinvestasikan dalam keseluruhan aktiva
untuk menghasilkan pendapatan bersih.
Rumus
menghitung Rate of Return Investment (ROI):
Rate of
Return Investment (ROI) = EAT / Jumlah Aktiva X 100%
f.
Return on Equity (ROE), rasio untuk mengukur kemampuan
equity untuk menghasilkan pendapatan bersih.
Rumus
menghitung Return on Equity (ROE):
Return
on Equity (ROE) = EAT / Jumlah Equity X 100%
Tingkat Pengembalian Ekuitas = Laba Bersih : Ekuitas
Tingkat Pengembalian Ekuitas 2015 = 94,941,536 : 411,611,941 = 0,23
Tingkat Pengembalian Ekuitas 2016 = 69,973,064 : 435,903,203 = 0,16
Tingkat Pengembalian Ekuitas 2015 = 94,941,536 : 411,611,941 = 0,23
Tingkat Pengembalian Ekuitas 2016 = 69,973,064 : 435,903,203 = 0,16
g. Rate
of Return on Net Worth atau Rate of Return for the Owners, rasio
untuk mengukur kemampuan modal sendiri diinvestasikan dalam menghasilkan
pendapatan bagi pemegang saham.
Rumus
menghitung Rate of Return on Net Worth:
Rate of
Return on Net Worth = EAT / Jumlah Modal Sendiri X 100%
Catatan : Semakin tinggi nilai persentase Rasio
Profitabilitas ini adalah adalah semakin baik, sebaiknya Anda bisa
membandingkannya dengan nilai rata-rata dari industri sejenis di pasar.
3. Rasio Solvabilitas atau Leverage Ratio
Rasio
untuk mengukur seberapa besar kemampuan perusahaan memenuhi semua kewajiban
finansial jangka panjang.
Ada
beberapa jenis rasio Solvabilitas antara lain :
a.
Total Debt to Assets Ratio, rasio untuk mengukur kemampuan
perusahaan dalam menjamin hutang-hutangnya dengan sejumlah aktiva yang
dimilikinya.
Rumus
menghitung Total Debt to Assets Ratio:
Total
Debt to Assets Ratio = Total Hutang / Total Aktiva X 100%
Rasio Hutang 2015 = (61,734,197 + 84,416,243) : 557,762,381 =
0,26
Rasio hutang 2016 = (56,604,822 + 54,285,897) : 546,793,922 = 0,20
Rasio hutang terlihat turun, hal ini dikarenakan jumlah hutang pada tahun 2016 menurun. Hal ini cukup menarik bagi kreditor, sehingga perusahaan dapat lebih mudah untuk menambah dana pinjaman jika diperlukan.
Rasio hutang 2016 = (56,604,822 + 54,285,897) : 546,793,922 = 0,20
Rasio hutang terlihat turun, hal ini dikarenakan jumlah hutang pada tahun 2016 menurun. Hal ini cukup menarik bagi kreditor, sehingga perusahaan dapat lebih mudah untuk menambah dana pinjaman jika diperlukan.
Time
Interest Earned
Rasio ini merupakan perbandingan antara laba sebelum bunga dan pajak atau laba operasi (EBIT) dengan beban bunga.
Beban Bunga 2015 = 8265931
Beban Bunga 2016 = 6813356
Rasio Interest Earned = Laba sebelum bunga dan pajak (EBIT) : Beban Bunga
Rasio Interest Earned 2015 = (103,272,192 + 8265931) : 8265931 = 13,5
Rasio Interest Earned 2016 = (77,953,670 + 6813356) : 6813356 = 12,4
Kemampuan perusahaan dalam menutup beban bunga dari hasil operasi menurun dibanding tahun lalu, penurunan ini dapat mempengaruhi pertimbangan kreditor dalam memberikan pinjaman.
Rasio ini merupakan perbandingan antara laba sebelum bunga dan pajak atau laba operasi (EBIT) dengan beban bunga.
Beban Bunga 2015 = 8265931
Beban Bunga 2016 = 6813356
Rasio Interest Earned = Laba sebelum bunga dan pajak (EBIT) : Beban Bunga
Rasio Interest Earned 2015 = (103,272,192 + 8265931) : 8265931 = 13,5
Rasio Interest Earned 2016 = (77,953,670 + 6813356) : 6813356 = 12,4
Kemampuan perusahaan dalam menutup beban bunga dari hasil operasi menurun dibanding tahun lalu, penurunan ini dapat mempengaruhi pertimbangan kreditor dalam memberikan pinjaman.
b.
Total Debt to Equity Ratio, rasio untuk mengukur seberapa besar
perusahaan dibiayai oleh pihak kreditur dibandingkan dengan equity.
Rumus
menghitung Total Debt to Equity Ratio:
Total
Debt to Assets Ratio = Total Hutang / Modal Sendiri X 100%
Catatan : Semakin tinggi nilai persentase Rasio Solvabilitas
ini adalah semakin buruk kemampuan perusahaan untuk membayar kewajiban jangka
panjangnya, maksimal nilainya adalah 200%.
4. Rasio Aktifitas atau Activity Ratio
Rasio
untuk mengukur seberapa efektif perusahaan dalam memanfaatkan sumber daya yang
dimilikinya.
Ada
beberapa jenis rasio Solvabilitas antara lain :
a.
Total Assets Turn Over, rasio untuk mengukur tingkat
perputaran total aktiva terhadap penjualan.
Rumus
menghitung Total Assets Turn Over Ratio:
Total
Assets Turn Over Ratio = Penjualan / Total Aktiva X 100%
b.
Working Capital Turn Over, rasio untuk mengukur tingkat
perputaran modal kerja bersih (Aktiva Lancar-Hutang Lancar) terhadap penjualan
selama suatu periode siklus kas dari perusahaan.
Rumus
menghitung Working Capital Turn Over Ratio:
Working
Capital Turn Over Ratio = Penjualan / Modal Kerja Bersih X 100%
c.
Fixed Assets Turn Over, rasio untuk mengukur perbandingan
antara aktiva tetap yang dimiliki terhadap penjualan.
Rasio
ini berguna untuk mengevaluasi seberapa besar tingkat kemampuan perusahaan
dalam memanfaatkan aktivatetap yang dimiliki secara efisien dalam rangka
meningkatkan pendapatan.
Rumus
menghitung Fixed Assets Turn Over Ratio:
Fixed
Assets Turn Over Ratio = Penjualan / Aktiva Tetap X 100%
Perputaran Total Aset = Penjualan : Total Aset
Perputaran Total Aset 2015 = 833,065,620 : 557,762,381 = 1,49
Perputaran Total Aset 2016 = 798,060,616 : 546,793,922 = 1,46
Perputaran Total Aset 2015 = 833,065,620 : 557,762,381 = 1,49
Perputaran Total Aset 2016 = 798,060,616 : 546,793,922 = 1,46
d.
Inventory Turn Over, rasio untuk mengukur tingkat
efisiensi pengelolaan perputaran persediaan yang dimiliki terhadap penjualan.
Semakin
tinggi rasio ini akan semakin baik dan menunjukkan pengelolaan persediaan yang
efisien.
Rumus
menghitung Inventory Turn Over Ratio:
Inventory
Turn Over Ratio = Penjualan / Persediaan X 100%
Persediaan awal th 2015 = 25,158,296
Perputaran Persediaan = Harga pokok Penjualan : Rata2 Persediaan
Perputaran Persediaan 2015 = 429,335,102 : (26,627,729 + 25,158,296)/2 = 16,6
Perputaran Persediaan 2016 = 394,741,717 : (30,672,422 + 26,627,729)/2 = 13,8
Perputaran Persediaan = Harga pokok Penjualan : Rata2 Persediaan
Perputaran Persediaan 2015 = 429,335,102 : (26,627,729 + 25,158,296)/2 = 16,6
Perputaran Persediaan 2016 = 394,741,717 : (30,672,422 + 26,627,729)/2 = 13,8
e.
Average Collection Period Ratio, rasio
untuk mengukur berapa lama waktu yang dibutuhkan oleh perusahaan dalam
menerima seluruh tagihan dari konsumen.
Rumus
menghitung Average Collection Period Ratio:
Average
Collection Period Ratio = Piutang X 365 / Penjualan X 100%
f.
Receivable Turn Over, rasio untuk mengukur tingkat perputaran
piutang dengan membagi nilai penjualan kredit terhadap piutang rata-rata.
Semakin
tinggi rasio ini akan semakin baik dan menunjukan modal kerja yang ditanamkan
dalam piutang rendah.
Rumus
menghitung Receivable Turn Over Ratio:
Receivable
Turn Over Ratio = Penjualan / Piutang Rata-Rata X 100%
Catatan
: Semakin tinggi nilai persentase Rasio Activity ini adalah semakin baik, Anda
bisa membandingkannya dengan nilai rata-rata dari industri sejenis di pasar
agar dapat menilai seberapa efisien Anda mengelola sumber daya yang dimiliki.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar